Learn Japanese

Pendahuluan

Menguasai bahasa Jepang menggunakan cara berpikir orang Jepang

Panduan ini berusaha menjelaskan tata bahasa Jepang secara sistematis dan masuk akal. Panduan ini bukanlah alat praktis untuk secepatnya mempelajari ungkapan-ungkapan berguna (misalnya, ungakapan-ungkapan umum saat bepergian). Namun, panduan ini akan membangun fondasi-fondasi tata bahasa secara logis sehingga kamu akan memiliki pemahaman dasar yang kuat. Kalau kamu pernah mempelajari bahasa Jepang lewat buku lain, mungkin kamu akan menemui bahwa ada perbedaan besar tentang urutan dan penyampaian materinya. Ini karena panduan ini tidak berusaha memaksa agar bahasa Jepangnya cocok dengan kerangka bahasa Indonesia. Di sini, contoh-contoh dan terjemahannya akan menunjukkan bagaimana ide-ide diekspresikan dalam bahasa Jepang yang sebenarnya, sehingga penjelasannya akan menjadi lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Di awal buku ini, akan digunakan terjemahan bahasa Indonesia yang seharfiah mungkin (literal, kata per kata). Terjemahan harfiah tersebut pada umumnya akan menghasilkan kalimat bahasa Indonesia yang aneh, namun dari situ kita akan bisa melihat bagaimana orang Jepang sebenarnya memahami kalimat tersebut. Contohnya, di terjemahannya mungkin tidak dituliskan subjek kalimat karena memang di kalimat bahasa Jepangnya tidak ada. Sebagai contoh lain, karena bahasa Jepang tidak membedakan antara kebenaran umum dengan bentuk masa depan (misal “Saya makan” dengan “Saya akan makan”) maka terjemahannya juga belum tentu membedakannya. Harapannya adalah pembaca menjadi tahu arti sebenarnya dari suatu kalimat bahasa Jepang. Setelah pembaca menjadi akrab dan nyaman dengan cara kerja bahasa Jepang, keharfiahan terjemahan akan perlahan-lahan dikurangi sehingga menjadi lebih enak dibaca guna mendukung pembahasan topik-topik lanjut.

Perlu diketahui bahwa membangun fondasi tata bahasa secara sistematis memiliki kekurangan di samping kelebihan. Di bahasa Jepang, konsep bahasa yang paling dasar ternyata juga yang paling sulit untuk dipahami. Lalu, kata-kata yang paling umum sayangnya punya banyak aturan perkecualian. Ini berarti bagian tersulit dari bahasa Jepang malah akan kita pelajari di awal-awal. Buku-buku pada umumnya tidak mengambil jalur seperti itu, takut para pembaca akan kebingungan atau malah kabur. Mereka menunda pembahasan konjugasi-konjugasi tersusah dan menutup-nutupinya sambil langsung mengajarkan ungkapan-ungkapan umum (yang saya maksud khususnya adalah konjugasi bentuk lampau). Hal tersebut sah-sah saja, namun malah akan menimbulkan lebih banyak masalah dan kebingungan di tengah jalan sebagaimana membangun rumah di atas fondasi yang rapuh. Dalam mempelajari bahasa, bagian yang susah mau tidak mau pasti akan dipelajari, tidak peduli apakah itu sejak awal ataupun akhir-akhir. Nah, kalau dipelajari sejak awal, bagian-bagian yang mudah malah akan menjadi jauh lebih mudah karena cocok dengan fondasi awal yang telah dibangun. Tata bahasa Jepang sebetulnya sangatlah konsisten. Kalau kamu mempelajari aturan-aturan tersulitnya, kamu akan melihat bahwa banyak tata bahasa sisanya memanfaatkan aturan-aturan dasar tersebut. Dari situ, bagian yang menantang tinggal mengingat kombinasi-kombinasi yang mungkin dari aturan dasarnya untuk menggunakannya di situasi yang benar.

Catatan: Sebelum menggunakan tutorial ini, ingat bahwa tanda kurung setengah seperti ini: 「」 adalah versi Jepang dari tanda kutip (“”).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: