Learn Japanese

Struktur tata bahasa dasar

Setelah belajar menulis bahasa Jepang, kita bisa mulai membahas tata bahasa dasarnya. Bagian ini terutama meninjau semua jenis kata: nomina, adjektiva, verba, dan adverbia. Bagian ini juga akan menjelaskan bagaimana menggabungkan jenis-jenis kata tersebut menggunakan partikel untuk membentuk kalimat yang baik. Setelah menyelesaikan bagian ini, kamu akan mendapat pemahaman dasar tentang cara kerja bahasa Jepang dan tentang cara mengekspresikan hal-hal sederhana menggunakan bahasa Jepang.

Menyatakan sesuatu memang sesuatu menggunakan 「だ」

Di bahasa Jepang, kita bisa menyatakan bahwa sesuatu memang seperti itu dengan menempelkan hiragana 「だ」 hanya ke nomina (kata benda) atau adjektiva-na (kata sifat na). Kamu akan mengerti maksud dari batasan tersebut saat nanti kita belajar berbagai macam adjektiva.

Kalau ingin sedikit analogi, bayangkan fungsi 「だ」 sebagaimana kata “adalah” pada kalimat “ini adalah ikan”. Kata “adalah” menegaskan bahwa benda yang kita tunjuk itu memang merupakan ikan. Untuk adjektiva, kata yang lebih cocok adalah “bersifat”, contohnya pada kalimat “dia bersifat cantik”.

Menyatakan bahwa sesuatu memang begitu menggunakan 「だ」

  • Tempelkan 「だ」 ke nomina atau adjektiva-na
  • (1) 魚。 – Ikan.
  • (2) 魚。 – Adalah ikan.
  • (3) きれい。 – Cantik.
  • (4) きれい。 – Bersifat cantik.

Gampang. Bisa dilihat bahwa fungsi 「だ」 adalah menyatakan keadaan benda positif. Namun ingatlah hal berikut:

Keadaan benda bisa dinyatakan tanpa menggunakan 「だ」!

Ini bukanlah hal yang asing juga di bahasa Indonesia. Di bahasa kita sendiri, kalimat “ini ikan” sudah bisa dimengerti tanpa perlu kata “adalah”. Pada bahasa Indonesia, kata “adalah” membuat kalimatnya terdengar lebih formal sehingga penggunaannya lebih untuk bahasa tertulis maupun pidato. Tidak ada aspek jenis kelamin maupun kesopanan. Namun di bahasa Jepang nuansa yang diberikan jauh berbeda. Keberadaan 「だ」 membuat kalimatnya terdengar lebih tegas, memaksa, dan dengan kata lain deklaratif. Oleh karenanya, yang lebih sering menggunakan 「だ」 di akhir kalimat adalah laki-laki. Di bahasa Jepang, gaya bahasa tegas juga berarti tidak sopan. Oleh karenanya, saat nanti belajar gaya bahasa sopan kita akan melihat bahwa 「だ」 tidak digunakan sebagai akhiran kalimat. Terakhir, karena 「だ」 hanya digunakan untuk membuat pernyataan, kamu tidak bisa menggunakannya saat bertanya.

Deklaratif 「だ」 juga diperlukan di berbagai konstruksi yang mengharuskan keadaan benda dinyatakan dengan jelas. Ada juga kasus-kasus di mana kamu tidak boleh menempelkannya. Semuanya cukup merepotkan tapi untuk saat ini kamu belum perlu memikirkannya.

Konjugasi bentuk negatif

Di bahasa Jepang, bentuk negatif dan lampau dinyatakan melalui perubahan bentuk atau konjugasi. Nomina dan adjektiva bisa dikonjugasi ke bentuk negatif untuk menyatakan bahwa sesuatu bukan X dan ke bentuk lampau untuk menyatakan bahwa sesuatu dulunya X. Mungkin kedengarannya aneh, tapi konjugasi-konjugasi tersebut tidak memiliki konotasi deklaratif sebagaimana 「だ」. Di bab lain kita akan belajar bagaimana menggabungkan konjugasi tersebut dengan 「だ」 untuk membuatnya deklaratif.

Pertama, untuk bentuk negatif, kamu hanya perlu menempelkan 「じゃない」 ke nomina atau adjektiva-na. Pada bahasa Indonesia, ini akan menjadi “bukan” seperti pada “ini bukan ikan” atau “tidak” seperti pada “dia tidak cantik”.

Aturan konjugasi untuk bentuk negatif

  • Tempelkan 「じゃない」 ke nomina atau adjektiva-na
    (例) 友達 → 友達じゃない (bukan teman)
    (例) きれい → きれいじゃない (tidak cantik)

Contoh

(1) 魚じゃない。- Bukan ikan.
(2) 学生じゃない。- Bukan murid.
(3) 静かじゃない。- Tidak hening.

Konjugasi bentuk lampau

Di bahasa Indonesia, untuk menyatakan keadaan di masa lalu digunakan keterangan waktu seperti “tadi”, “tahun lalu”, “dulu”, dan “waktu itu”. Contohnya adalah “ujiannya kemarin mudah”. Di bahasa Jepang, yang diperlukan adalah merubah katanya ke bentuk lampau. Pada contoh sebelumnya, “mudah” harus dikonjugasi ke bentuk lampau. Jadi walaupun kamu sudah menggunakan keterangan waktu, kamu tetap harus merubah katanya ke bentuk lampau.

Untuk mengatakan bahwa sesuatu dulunya sesuatu, 「だった」 ditempelkan ke nomina atau adjektiva-na. Kita akan secara bebas menggunakan penanda waktu “dulu” maupun “waktu itu” sebagai terjemahannya.

Untuk mengatakan bentuk negatif lampau (dulunya bukan), bentuk negatifnya dikonjugasi menjadi bentuk negatif lampau dengan membuang 「い」 dari 「じゃない」 dan menambahkan 「かった」.

Aturan konjugasi untuk bentuk lampau

  1. Bentuk lampau: Tempelkan 「だった」 ke nomina atau adjektiva-na
    (例) 友達 → 友達だった (dulu teman)
    (例) きれい → きれいだった (dulu cantik)
  2. Bentuk lampau negatif: Konjugasikan nomina atau adjektiva-na ke bentuk negatif lalu ganti 「い」 pada 「じゃない」 dengan 「かった」
    (例) 友達 → 友達じゃない → 友達じゃなかった (dulu bukan teman)
    (例) きれい → きれいじゃない → きれいじゃなかった (dulu tidak cantik)

(1) 魚だった。- Dulunya ikan.
(2) 学生じゃなかった。- Dulu bukan murid.
(3) 静かじゃなかった。- Waktu itu tidak hening.

Ringkasan

Kita telah belajar mengkonjugasikan keadaan benda ke empat bentuk yang mungkin. Berikutnya kita akan belajar beberapa partikel, yang memungkinkan kita memberikan peran pada kata. Inilah tabel ringkasan konjugasi yang dipelajari di bab ini.

Ringkasan konjugasi keadaan benda
Positif Negatif
Taklampau 魚(だ) Adalah ikan 魚じゃない Bukan ikan
Lampau 魚だった Dulu ikan 魚じゃなかった Dulu bukan ikan

 

Menentukan peran kata dengan partikel

Memanfaatkan apa yang telah dipelajari di bab sebelumnya, kita sekarang akan menghubungkan suatu nomina dengan nomina lain. Ini dilakukan dengan sesuatu yang disebut partikel. Partikel adalah satu atau dua huruf hiragana yang ditempelkan ke akhir kata untuk menentukan peran kata tersebut di kalimat. Menggunakan partikel yang benar sangatlah penting sebab arti kalimat bisa berubah drastis hanya dengan mengganti partikelnya. Contohnya, kalimat “Ikan makan.” bisa menjadi “Makan ikan.” hanya dengan mengganti satu partikel.

Partikel topik 「は」

Partikel pertama yang akan kita pelajari adalah partikel topik. Pada intinya, partikel topik menunjukkan apa yang sedang kamu bicarakan, dengan kata lain topik kalimatmu. Sebagai contoh, misal seseorang mengatakan “Bukan murid.” Ini adalah kalimat yang sudah benar pada bahasa Jepang, namun tidak jelas siapa yang sedang dibicarakan kecuali kita mengikuti pembicaraannya dari awal. Nah, dengan partikel topik kita bisa menyatakan apa yang sebetulnya dibicarakan. Partikel ini adalah huruf 「は」. Perlu diingat bahwa walaupun partikel topik menggunakan huruf hiragana “ha”, saat digunakan sebagai partikel topik pengucapannya selalu “wa”.

Saat digunakan sebagai partikel topik, 「は」 dibaca “wa”!

Contoh 1

ジャヤ: リナ学生?- Apakah kamu (Rina) murid?
リナ: うん、学生。- Ya, saya murid.

Di sini, Jaya menggunakan 「は」 untuk menyatakan bahwa pertanyaannya adalah tentang Rina. Perhatikan bahwa Jaya tidak menggunakan 「だ」 di akhir pertanyaan, karena memang 「だ」 tidak boleh digunakan untuk membuat pertanyaan. Berikutnya, perhatikan bahwa Rina tidak menyebutkan topik apapun di jawabannya. Topiknya telah dibuat jelas oleh Jaya, sehingga Rina tidak perlu mengulangnya lagi. Terakhir, walaupun Rina tidak menggunakan deklaratif 「だ」, mungkin pengguna laki-laki akan lebih memilih untuk menggunakannya supaya terdengar tegas.

Contoh 2

ジャヤ: アンドレ明日?- Apakah Andre besok?
リナ: 明日じゃない。- Bukan besok.

Karena konteksnya kurang, kita tidak punya informasi cukup untuk sepenuhnya memahami percakapan ini. Tentu saja, tidak mungkin bahwa yang dimaksud itu “Andre adalah besok.” karena seseorang tidak mungkin menjadi “besok”. Kalau ada konteksnya, asalkan kalimatnya berhubungan dengan Andre dan besok, artinya bisa bermacam-macam. Contohnya, mereka bisa saja membicarakan tentang kapan ujian diselenggarakan.

Contoh 3

リナ: 今日は試験だ。- Hari ini ujian.
ジャヤ: アンドレは? – Bagaimana mengenai Andre?
リナ: アンドレは明日。 – Andre besok. (Mengenai Andre, ujiannya besok.)

Kita harus sadar bahwa konsep topik sangatlah umum. Suatu topik bisa saja secara tidak langsung mengacu pada suatu benda atau aksi lain. Sebagai contoh, pada kalimat terakhir contoh di atas, walaupun kalimatnya membicarakan mengenai kapan ujian untuk Andre, kata “ujian” tidak disebutkan!

Di akhir bab ini kita akan melihat suatu partikel yang mengikat kata secara lebih kencang ke kalimat yaitu partikel identifikasi.

Partikel inklusif 「も」

Partikel lain yang sangat mirip dengan partikel topik adalah partikel topik inklusif. Fungsinya pada dasarnya sama dengan partikel topik namun dengan arti tambahan “juga”. Intinya, partikel tersebut menambahkan topik baru ke topik sebelumnya. Partikel topik inklusif ini adalah 「も」 dan cara yang paling baik untuk memahaminya adalah dengan contoh:

Contoh 1

ジャヤ: リナは学生?- Apakah kamu (Rina) murid?
リナ: うん、ヘリ学生。- Ya, dan Heri juga murid.

Perhatikan bahwa Rina harus konsisten dengan inklusinya. Tidak masuk akal untuk mengatakan “Saya murid, dan Heri juga bukan murid.” Untuk kasus tersebut Rina akan menggunakan partikel 「は」 untuk menghilangkan makna inklusi seperti pada contoh berikut:

Contoh 2

ジャヤ: リナは学生?- Apakah kamu (Rina) murid?
リナ: うん、でもヘリ学生じゃない。- Ya, tapi Heri bukan murid.

Contoh 3

Ini juga salah satu kemungkinan:
ジャヤ: リナは学生?- Apakah kamu (Rina) murid?
リナ: ううん、ヘリ学生じゃない。- Bukan, dan Heri juga bukan murid.

Kenapa Rina tiba-tiba membicarakan Heri, padahal Jaya hanya menanyakan Rina? Mungkin Heri sedang berdiri di sampingnya dan Rina ingin mengikutsertakannya dalam pembicaraan.

Partikel identifikasi 「が」

Kita bisa membuat topic menggunakan partikel 「は」 dan 「も」. Tapi bagaimana kalau kita tidak tahu topiknya? Bagaimana kalau saya ingin bertanya, “Siapa yang murid?”. Kita perlu pengidentifikasi karena saya tidak tahu siapa muridnya. Kalau saya menggunakan partikel topik, maka pertanyaannya akan menjadi “Apakah siapa murid?”, seakan-akan “siapa” adalah nama seseorang. Hal tersebut tidak masuk akal karena “siapa” itu sebetulnya bukan orang nyata.

Di sinilah partikel 「が」 berfungsi. Kadang-kadang 「が」 juga disebut partikel subjek tapi saya benci istilah tersebut karena konsep “subjek” di bahasa Indonesia jauh berbeda dengan fungsi 「が」. Saya kukuh akan menyebutnya partikel identifikasi karena memang itu fungsi sebenarnya, menunjukkan bahwa pembicara ingin mengidentifikasi sesuatu yang tidak diketahui.

Contoh 1

ジャヤ: 誰学生?- Siapa yang murid?
リナ: アンドレ学生。- Andre adalah yang murid.

 

Jaya ingin mengidentifikasi siapa yang merupakan murid di antara kandidat-kandidat yang mungkin. Rina menjawab bahwa orangnya adalah Andre. Perhatikan bahwa Rina bisa saja menjawab dengan partikel topik yang berarti bahwa, berbicara tentang Andre, dia tahu bahwa Andre adalah seorang murid (mungkin bukan si murid yang dicari). Perbedaannya bisa dilihat di contoh berikutnya.

Contoh 2

(1) 誰学生? – Siapa yang murid?
(2) 学生は誰?- Murid (itu) siapa?

Mudah-mudahan kamu bisa melihat bahwa (1) bertujuan mencari seseorang yang merupakan “murid” sedangkan (2) hanya membicarakan mengenai seorang murid. Kamu tidak bisa mengganti 「が」 dengan 「は」 pada (1) karena nanti “siapa” akan menjadi topik dan pertanyaanya menjadi “Apakah siapa murid?”

Partikel 「は」 dan 「が」 mungkin terlihat sangat mirip karena perbedaannya sukar diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sebagai contoh, 「私は学生」 dan 「私が学生」 sama-sama menjadi “Saya murid.”* jika diterjemahkan. Namun terjemahannya menjadi sama di bahasa Indonesia karena informasi mengenai konteks seringkali tidak bisa dinyatakan dengan ringkas seperti pada bahasa Jepang. Pada kalimat pertama 「私は学生」, karena topiknya adalah 「私」, maksud kalimatnya adalah “berbicara tentang saya, saya adalah murid”. Namun di kalimat kedua 「私」 menentukan siapa yang merupakan 「学生」. Kalau kita ingin tahu siapa muridnya, partikel 「が」 memberitahu bahwa jawabannya adalah 「私」.

Kamu bisa membayangkan bahwa partikel 「が」 selalu menjawab suatu pertanyaan sunyi. Bayangkan kalimat 「私が学生」 merupakan respons pertanyaan seperti “Siapa yang murid?” Sebagai contoh lain, kalau ada kalimat 「アンドレが魚だ」, maka artinya kita menjawab pertanyaan seperti “Siapa yang ikan?” atau bahkan mungkin “Apa makanan yang disukai Andre?” Untuk kalimat 「これが車」, pertanyaannya bisa saja “Yang mana mobil?”. Kalau kamu menggunakan cara berpikir yang benar, partikel 「は」 sebetulnya sangat beda dengan 「が」. Partikel 「が」 mengidentifikasi suatu benda yang ditanya-tanya sedangkan 「は」 hanya digunakan untuk mengangkat topik pembicaraan baru. Inilah alasannya kenapa di kalimat-kalimat panjang seringkali topiknya dipisahkan dengan koma untuk menghilangkan ambiguitas mengenai bagian kalimat mana saja yang dicakup suatu topik.

Sifat-sifat kata sifat

Karena sekarang kita telah dapat menghubungkan dua nomina menggunakan berbagai partikel, selanjutnya kita ingin menggambarkan nomina kita dengan adjektiva (kata sifat). Ada adjektiva yang bisa langsung memodifikasi nomina yang muncul setelahnya. Ada juga yang memerlukan hiragana pembantu. Berdasarkan hal tersebut, adjektiva dibagi menjadi dua: adjektiva-na dan adjektiva-i. Kita akan melihat perbedaannya dan cara menggunakannya dalam kalimat.

Adjektiva-na

Adjektiva-na sangat mudah dipelajari karena dia pada dasarnya berperilaku seperti nomina. Bahkan, karena mereka begitu mirip, kamu bisa berasumsi bahwa mereka cara kerjanya sama kecuali kalau saya terang-terang menjelaskan perbedaannya. Satu perbedaan utamanya adalah adjektiva-na bisa memodifikasi nomina yang mengikutinya dengan menyelipkan 「な」 di antara adjektiva dan nominanya. Oleh karenanya, dia dinamai adjektiva-na.

(1) 静か人。- Orang yang pendiam.

Terbalik dengan bahasa Indonesia, di bahasa Jepang kita menyebutkan sifatnya dulu sebelum bendanya. Lalu, 「な」 di situ bisa kamu anggap seperti “yang” pada bahasa Indonesia: dia befungsi menghubungkan benda dan sifatnya. Hanya saja, kalau di bahasa Indonesia kita seringkali bisa membuang “yang” (misalnya “orang pendiam”) tanpa ada perubahan arti, pada bahasa Jepang adjektiva-na selalu membutuhkan 「な」. Kita akan secara bebas mengabaikan “yang” pada terjemahan bahasa Indonesianya.

Selain memodifikasi nomina menggunakan 「な」, kamu juga bisa mengatakan bahwa “suatu nomina” bersifat “suatu adjektiva” dengan menggunakan partikel topik atau identifikasi, mengikuti pola [nomina] [partikel] [adjektiva]. Contohnya adalah 「人は静か」. Ini pada dasarnya sama dengan menyatakan keadaan benda yang dipelajari di dua bab sebelumnya. Namun, karena tidak mungkin “suatu adjektiva” menjadi “suatu nomina”, maka kita tidak bisa mengatakan [adjektiva] [partikel] [nomina] (misalnya 「静かが人」). Ini cukup jelas karena, misalnya, seseorang bisa saja bersifat pendiam, tapi mengatakan bahwa sifat pendiam adalah orang tidaklah masuk akal.

(1) 友達は親切。- Teman bersifat baik hati.

(2) 友達は親切な人。- Teman adalah orang yang baik hati.

Apa kamu masih ingat bahwa saya mengatakan adjektiva-na bertingkah seperti nomina? Kamu bisa melihatnya di contoh berikut.

(1) ジャヤは魚が好きだ。- Jaya suka ikan.

(2) ジャヤは魚が好きじゃない。- Jaya tidak suka ikan.

(3) ジャヤは魚が好きだった。- Jaya dulu suka ikan.

(4) ジャヤは魚が好きじゃなかった。- Jaya dulu tidak suka ikan.

Apakah konjugasinya terasa akrab? Seharusnya iya, kalau kamu memperhatikan konjugasi keadaan benda untuk nomina. Mungkin kamu perlu membiasakan diri bahwa “suka” di bahasa Jepang dinyatakan dengan kata sifat bukannya kata kerja. Jadi, cara untuk mengatakan “suka ikan” pada bahasa Jepang adalah 「魚が好き」 (ikan bersifat “suki”). Kalau sesuatu bersifat “suki”, artinya kamu suka hal tersebut! Ini juga tentunya dipakai untuk menyatakan suka pada orang, misalnya 「リナが好き」 (senang Rina).

Pada contoh-contoh di atas kamu juga bisa melihat partikel topik dan indentifikasi yang bekerja secara harmonis. Partikel topik memberitahu bahwa kalimatnya berbicara mengenai “Jaya”, dan partikel identifikasi menunjuk bahwa “ikan” adalah benda yang Jaya suka.

Kamu juga bisa menggunakan tiga konjugasi terakhir untuk memodifikasi nomina secara langsung. (untuk bentuk positif taklampau, ingat bahwa kita perlu 「な」)

(1) 魚が好きなタイプ。- Tipe yang suka ikan.

(2) 魚が好きじゃないタイプ。- Tipe yang tidak suka ikan.

(3) 魚が好きだったタイプ。- Tipe yang dulu suka ikan.

(4) 魚が好きじゃなかったタイプ。- Tipe yang dulu tidak suka ikan.

Di sini, seluruh klausa 「魚が好き」、「魚が好きじゃない」、dll. memodifikasi “tipe” untuk berbicara tentang tipe (orang) yang suka atau tidak suka ikan.

Kamu bahkan bisa memperlakukan seluruh klausa tersebut sebagai sebuah nomina. Contohnya, kita bisa membuat klausa tersebut menjadi topik seperti contoh berikut:

(1) 魚が好きじゃないタイプは、肉が好きだ。
– Tipe (orang) yang tidak suka ikan, suka daging (sapi dsb.)

Adjektiva-i

Adjektiva-i dinamakan begitu karena selalu diakhiri hiragana 「い」. Ini adalah okurigana yaitu bagian yang akan berubah-ubah saat kita mengkonjugasi adjektivanya. Tapi, kamu juga perlu tahu bahwa beberapa adjektiva-na diakhiri 「い」 misalnya 「きれい(な)」. Jadi, bagaimana cara membedakannya? Berita buruknya, tidak ada cara pasti untuk mengetahuinya. Namun berita baiknya adalah saya hanya bisa memikirkan dua adjektiva-na yang diakhiri 「い」 dan umumnya ditulis dengan hiragana: 「きれい」 dan 「嫌い」. Adjektiva-na lain yang diakhiri 「い」 biasanya ditulis dengan kanji jadi kamu bisa melihat bahwa dia bukan adjektiva-i. Contohnya, 「きれい」 jika ditulis dengan kanji adalah 「綺麗」 atau 「奇麗」, dan karena 「い」-nya merupakan bagian dari kanji 「麗」, maka kita bisa tahu bahwa dia tidak mungkin merupakan adjektiva-i. Ini karena inti utama 「い」 pada adjektiva-i adalah memungkinkan dilakukannya konjugasi tanpa mempengaruhi kanjinya. Bahkan, satu-satunya adjektiva-na yang terpikirkan oleh saya yang benar-benar diakhiri hiragana 「い」 hanyalah 「嫌い」. Ini karena 「嫌い」 diturunkan dari kata kerja 「嫌う」.

Apakah kamu ingat bahwa keadaan benda negatif juga diakhiri 「い」 (じゃな)? Nah, kamu bisa memperlakukan adjektiva-i sebagaimana keadaan benda negatif. Misalnya, kamu tidak bisa menempelkan deklaratif 「だ」 ke adjektiva-i sebab kita tahu bahwa keadaan benda negatif juga tidak disertai 「だ」. (Bandingkan dengan adjektiva-na dan nomina yang bisa ditempeli 「だ」)

JANGAN menempelkan 「だ」 ke adjektiva-i.

Setelah masalah tadi jelas, kita bisa belajar aturan konjugasi untuk adjektiva-i. Ada dua aturan baru untuk hal tersebut. Untuk bentuk negatifnya, pertama kita buang 「い」 lalu tempelkan 「くない」. Untuk bentuk lampaunya, buang 「い」 lalu tambahkan 「かった」. Karena 「くない」 juga diakhiri 「い」, kamu bisa menganggap bentuk negatifnya sebagai suatu adjektiva-i baru. Jadi aturan konjugasi lampau negatif sama dengan aturan konjugasi lampau positif.

Aturan konjugasi untuk adjektiva-i

  • Negatif: Pertama buang akhiran 「い」 dari adjektiva-i lalu tambahkan 「くない」
  • 例) 高 → 高くない
  • Lampau: Pertama buang akhiran 「い」 dari adjektiva-i atau adjektiva-i negatif lalu tambahkan 「かった」
  • 例) 高 → 高かった
  • 例) 高くな → 高くなかった
Ringkasan konjugasi adjektiva-i
Positif Negatif
Taklampau 高い 高くない
Lampau 高かった 高くなかった

Untuk memodifikasi nomina, kamu tinggal menempelkan adjektiva-i langsung.

(1) 高いビル。- Bangunan yang tinggi.

(2) 高くないビル。- Bangunan yang tidak tinggi.

(3) 高かったビル。- Bangunan yang dulunya tinggi.

(4) 高くなかったビル。- Bangunan yang dulunya tidak tinggi.

Kamu juga bisa menggabung banyak adjektiva berturut-turut dalam urutan dan bentuk apapun.

(1) 静かな高いビル。- Bangunan yang hening dan tinggi.

(2) 高い静かなビル。- Bangunan yang tinggi dan hening.

(3) 静かな高くないビル。- Bangunan yang hening dan tidak tinggi.

Dengan adjektiva-i, kita juga bisa membuat klausa nomina deskriptif seperti yang tadi kita lakukan dengan adjektiva-na. Tentunya bedanya adalah kita tidak memerlukan 「な」 untuk memodifikasi nominanya. Pada contoh berikut, klausa deskriptif 「値段が高い」 langsung memodifikasi 「レストラン」.

(1) 値段が高いレストランはあまり好きじゃない。
– Tidak terlalu suka restoran yang harganya mahal.

Perkecualian yang merepotkan

Ada satu adjektiva-i yaitu “baik” yang perilakunya berbeda dengan adjektiva-i lainnya. Ini adalah contoh klasik mengenai susahnya bahasa Jepang bagi pemula karena kata-kata yang paling umum dan berguna adalah kata-kata yang punya banyak perkecualian. Kata untuk “baik” pada awalnya adalah 「よい(良い)」. Namun seiring berlalunya waktu, kata itu kini menjadi 「いい」. Saat ditulis dengan kanji, cara membacanya umumnya adalah 「よい」, jadi 「いい」 hampir selalu ditulis dengan hiragana. Sampai tadi seharusnya tidak ada masalah. Nah sayangnya, semua konjugasinya masih diturunkan dari 「よい」 dan bukan 「いい」. Ini ditunjukkan pada tabel di bawah.

Adjektiva lain yang seperti ini adalah 「かっこいい」 karena merupakan versi singkat gabungan dua kata yaitu 「格好」 dan 「いい」. Karena menggunakan 「いい」, maka konjugasinya juga sama.

Konjugasi untuk 「いい」
Positif Negatif
Taklampau いい よくない
Lampau よかった よくなかった
Konjugasi untuk 「かっこいい」
Positif Negatif
Taklampau かっこいい かっこよくない
Lampau かっこよかった かっこよくなかった

Selalu ingat untuk menurunkan konjugasinya dari 「よい」 dan bukan 「いい」.

Contoh

(1) 値段があんまりよくない
– Harganya tidak terlalu bagus.

(2) 彼はかっこよかった
– Dia (kemarin) benar-benar keren!

Fungsi verba

Kita telah belajar cara menggambarkan nomina dengan berbagai cara menggunakan nomina lain dan adjektiva. Dengan kemampuan tersebut, kita sudah bisa mengekspresikan cukup banyak hal. Namun, kita masih belum bisa menyatakan aksi. Inilah guna verba (kata kerja)! Verba pada bahasa Jepang selalu diletakkan di akhir klausa. Karena kita belum belajar cara membuat lebih dari satu klausa, untuk saat ini aturan tersebut berarti setiap kalimat yang memiliki verba harus meletakkan verbanya di akhir. Kita akan mengenal dua kategori utama verba, yang akan memungkinkan kita belajar aturan konjugasi. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada satu hal penting yang harus kamu ingat selalu:

Kalimat yang secara tata bahasa lengkap hanya memerlukan verba (termasuk pernyataan keadaan benda).

Dengan kata lain, tidak seperti bahasa Indonesia, kamu benar-benar hanya perlu verba untuk membuat kalimat yang benar. Tanpa topik juga tidak masalah! Mengerti sifat fundamental ini sangatlah penting untuk memahami bahasa Jepang. Inilah sebabnya kalimat bahasa Jepang yang paling sederhana pun tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia. Semua konjugasi akan dimulai dari bentuk kamusnya (sebagaimana kata-kata tersebut muncul di kamus).

Kalimat yang sudah lengkap secara tata bahasa
(1) 食べる。- Makan. (Terjemahan yang mungkin: saya makan/dia makan/mereka makan)

Pengelompokan verba menjadi verba-ru dan verba-u

Hampir semua verba di bahasa Jepang bisa digolongkan menjadi dua: verba-ru (一段動詞) dan verba-u (五段動詞). Verba yang berada di luar kategori itu hanyalah 「する」 yang berarti “melakukan” dan 「来る」 yang berarti “datang”. Semua aturan konjugasi yang ada hampir sama untuk tiap kelompok tersebut. Cara untuk membedakan verba-ru dan verba-u cukup mudah.

Ingat bahwa semua verba diakhiri kana yang disebut okurigana, yang bisa kita ubah untuk konjugasi. Kalau kamu menuliskan verba tersebut menggunakan huruf Latin (「ローマ字」 dalam bahasa Jepang) dan ternyata diakhiri “iru” atau “eru”, maka biasanya itu adalah verba-ru. Sebagai contoh, romanisasi dari 「食べる」 adalah “taberu“. Dia diakhiri “eru” dan merupakan verba-ru. Contoh lain verba-ru adalah 「起きる」 yang romanisasinya adalah “okiru“. Verba lain yang akhirannya bukan “iru” maupun “eru” sudah pasti adalah verba-u.

Tapi ada satu halangan di sini. Perhatikan bahwa semua verba-ru pasti diakhiri 「る」. Lalu perhatikan bahwa semua verba-u pasti diakhiri suara “u”, yaitu 「つ」、「す」、「く」、「ぐ」、「む」、「ぶ」、「う」、「ぬ」、dan sayangnya juga 「る」! Kalau suatu verba diakhiri 「る」, tapi bukan “iru” maupun “eru” (misal “uru”), maka dengan jelas dia adalah verba-u. Nah, kasus yang tersisa adalah verba-u yang juga diakhiri “eru” maupun “iru”. Ada beberapa verba-u tersebut, dan tidak ada cara untuk membedakannya dengan verba-ru biasa selain dengan menghafal. Di akhir bab ini, diberikan daftar beberapa verba-u tersebut yang paling umum. Kalau kamu ragu dengan suatu verba, kamu bisa selalu mengeceknya di Jim Breen’s WWWJDIC. Di sana, verba-ru ditandai (v1) sedangkan verba-u berakhiran 「る」 ditandai (v5r).

(Ngomong-ngomong, 「死ぬ」 adalah satu-satunya verba yang diakhiri 「ぬ」)

Karena konsistensi suara di aturan-aturanya, seiring waktu verba-u akan “kedengaran” seperti verba-u dan begitu juga dengan verba-ru. Pada akhirnya, kamu akan bisa mengkategorikan verba baru hanya dengan mendengarnya tanpa perlu berpikir keras. Paling tidak, itulah tujuan yang diharapkan.

Cara membedakan verba-ru dengan verba-u

  • Tidak diakhiri iru/eru → verba-u
  • Diakhiri iru/eru → verba-ru, dengan beberapa kasus perkecualian
Contoh verba-ru
Verb ローマ字
食べる taberu
着る kiru
信じる shinjiru
寝る neru
起きる okiru
出る deru
掛ける kakeru
捨てる suteru
調べる shiraberu
Contoh verba-u
Verb ローマ字
話す hanasu
聞く kiku
泳ぐ oyogu
遊ぶ asobu
待つ matu
飲む nomu
直る naoru
死ぬ shinu
買う kau
Bukan verba-ru maupun verba-u
Verb ローマ字
する suru
くる kuru

Contoh

Inilah beberapa contoh kalimat yang menggunakan verba-ru, verba-u, dan verba perkeculian.
(1) リナは食べる。- Mengenai Rina, makan.
(2) ジャヤが遊ぶ。- Jaya adalah yang main.
(3) ギタもする。- Gita juga melakukan.
(4) お金がある。- Ada uang. (lit: uang ada.)
(5) 私は買う。- Mengenai saya, membeli.
(6) 猫はいる。- Ada kucing. (lit: Mengenai kucing, ada.)

Referensi: verba-u yang diakhiri iru/eru

Inilah daftar verba-u umum yang diakhiri “iru” atau “eru”. Daftar ini dibedakan menjadi tiga tingkat untuk membantu kamu fokus ke kata-kata yang paling umum terlebih dahulu. Daftar ini tidak memuat semua verba-u yang ada di muka bumi.

verba-u berakhiran iru/eru dibagi berdasarkan tingkat
Mudah Menengah Lanjut
要る 焦る 嘲る
帰る 限る 覆る
切る 蹴る 遮る
しゃべる 滑る 罵る
知る 握る 捻る
入る 練る 翻る
走る 参る 滅入る
減る 交じる 蘇る

Menyangkal verba

Karena kita sudah bisa melakukan aksi dengan verba, sekarang kita ingin bisa mengatakan negatifnya. Dengan kata lain, kita ingin mengatakan bahwa “ini” dan “itu” tidak dilakukan. Di bahasa Indonesia, kita cukup menggunakan kata “tidak”, misalnya dari “makan” menjadi “tidak makan”. Pada bahasa Jepang, verba disangkal dengan mengkonjugasikannya ke bentuk negatif seperti pada adjektiva. Hanya saja, aturannya sedikit lebih rumit.

Mengkonjugasikan verba ke bentuk negatif

Sekarang kita akan menggunakan klasifikasi verba yang telah dipelajari untuk membuat aturan konjugasi. Tapi sebelumnya, kita perlu tahu satu perkecualian yang sangat penting dalam aturan konjugasi verba negatif yaitu 「ある」. 「ある」 adalah verba-u yang digunakan untuk menyatakan keberadaan benda-benda mati dan tumbuhan.

Contohnya, kalau kamu ingin mengatakan bahwa ada kursi di ruangan, kamu akan menggunakan verba 「ある」. Padanannya untuk benda hidup bergerak (misalnya orang dan binatang) adalah 「いる」 yang merupakan verba-ru biasa. Contohnya, kalau kamu ingin mengatakan bahwa seseorang ada di dalam ruangan, kamu harus menggunakan verba 「いる」 dan bukan 「ある」. Kedua verba ini yaitu 「ある」 dan 「いる」 cukup beda dari verba lainnya karena mereka menyatakan keberadaan dan bukan aksi yang sebenarnya. Kamu juga harus repot memilih verba yang cocok untuk benda mati maupun hidup.

Alasan saya mengangkat topik tersebut adalah karena bentuk negatif dari 「ある」 adalah 「ない」 (artinya sesuatu tidak ada). Ingat, ini adalah perkecualian jadi jangan gunakan aturan konjugasi yang normal ke verba ini.

Bentuk negatif 「ある」 adalah 「ない」.

Berikutnya kita akan bahas aturan untuk verba lainnya. Untuk menyangkal verba-ru, kamu tinggal membuang 「る」 dan menambah 「ない」. Untuk verba-u, mungkin akan membantu kalau kamu melihat romanisasi dari verba tersebut. Kamu tinggal membuang vokal “u” dan menambah “anai”. Atau, alternatifnya yang lebih baik, kamu bisa melirik kembali tabel hiragana. Ambil hiragana terakhir dari katanya, yang pasti berada di baris “u” pada tabel, lalu naik ke atas dua kolom untuk menggantinya dengan huruf di baris “a”. Contohnya 「く」 akan menjadi 「か」.

Perkecualian penting untuk aturan ini adalah verba yang diakhiri 「う」. Kamu harus menggantinya dengan 「わ」, bukan 「あ」. Kamu juga harus menghafal konjugasi untuk dua verba perkecualian dan 「ある」 seperti yang sudah kita bahas tadi. Tabel berikut merangkum konjugasinya:

Cara menkonjugasikan verba ke bentuk negatifnya

  • verba-ru: Untuk mengkonjugasikan verba-ru ke bentuk negatifnya, buang 「る」 yang ada di akhir kata lalu tambahkan 「ない」.
    例) 見 → 見ない
    例) 出 → 出ない
  • verba-u: Untuk mengkonjugasikan verba-u ke bentuk negatifnya, ganti huruf bersuara “u” di akhir kata dengan huruf padanannya yang bersuara “a” lalu tambahkan 「ない」.
    例) 飲 → 飲 → 飲まない
    例) 待 → 待 → 待たない※ Satu perkecualian pentingnya adalah bagi verba yang diakhiri hiragana 「う」. Untuk mereka, ganti 「う」 dengan 「わ」 (bukan 「あ」) lalu tambahkan 「ない」.
    例) 拾 → 拾 → 拾わない
  • verba perkecualian (termasuk ある): Lihat tabel di bawah.
Contoh verba-ru
Positif Negatif
食べ 食べない
ない
信じ 信じない
ない
起き 起きない
ない
掛け 掛けない
捨て 捨てない
調べ 調べない
Contoh verba-u
Positif Negatif ローマ字 ローマ字 (Neg)
さない hanasu hanasanai
かない kiku kikanai
がない oyogu oyoganai
ばない asobu asobanai
たない matu matanai
まない nomu nomanai
らない naoru naoranai
なない shinu shinanai
*買 ない kau kawanai
Verba perkecualian
Positif Negatif
する しない
くる こない
*ある ない

* = perkecualian hanya untuk konjugasi ini

Contoh

Inilah beberapa contoh kalimat yang menggunakan bentuk negatif. Semuanya merupakan penyangkalan dari contoh kalimat bab sebelumnya.

(1) リナは食べない。- Mengenai Rina, tidak makan.
(2) ジャヤが遊ばない。- Jaya adalah yang tidak main.
(3) ギタもしない。- Gita juga tidak melakukan.
(4) お金がない。- Tidak ada uang. (lit: uang tidak ada.)
(5) 私は買わない。- Mengenai saya, tidak membeli.
(6) 猫はいない。- Tidak ada kucing. (lit: Mengenai kucing, tidak ada.)

Merubah verba ke bentuk lampau

Pembahasan sifat-sifat dasar verba akan kita selesaikan dengan belajar cara menyatakan aksi dalam bentuk lampau dan negatif lampau. Saya perlu memberi tahu sebelumnya bahwa aturan konjugasi di bab ini adalah aturan paling rumit yang ada di bahasa Jepang. Di satu sisi, setelah menguasai aturan di sini segala aturan konjugasi lain akan terlihat sangat mudah. Namun di sisi lain, kamu mungkin perlu membuka-buka bab ini berkali-kali sampai menjadi akrab dengan aturannya. Kamu mungkin perlu latihan yang cukup banyak sebelum mahir menggunakan berbagai konjugasinya.

Bentuk lampau untuk verba-ru

Kita akan mulai dari verba-ru yang gampang. Untuk merubah verba-ru dari bentuk kamusnya ke bentuk lampaunya, kamu tinggal membuang 「る」 dan menambahkan 「た」.

Untuk merubah verba-ru ke bentuk lampau

  • Buang 「る」 dari verba-ru yang bersangkutan lalu tambahkan 「た」
  • 例)出 → 出
  • 例)捨て → 捨て

Contoh

(1) ご飯は、食べた
– Mengenai makanan, tadi makan.

(2) 映画は、全部見た
– Mengenai film, kemarin melihat semua.

Ingat bahwa di bahasa Indonesia verba tidak memiliki bentuk lampau. Untuk menyatakan kejadian di masa lalu secara jelas, bahasa Indonesia menggunakan keterangan waktu seperti “kemarin”, “tadi pagi”, “dulu”, dan “waktu itu”. Pada terjemahan contoh, kita akan secara bebas memilih keterangan waktunya. Kemungkinan lainnya adalah menuliskan keterangan “(lampau)” setelah kalimatnya kalau memang perlu dibuat jelas.

Bentuk lampau untuk verba-u

Merubah verba-u dari bentuk kamus ke bentuk lampaunya susah karena kita harus membagi lagi verba-u menjadi empat kategori. Keempat kategori tersebut bergantung pada huruf terakhir verbanya. Tabel berikut melukiskan kategori-kategorinya. Sebagai tambahan, ada satu perkecualian yaitu untuk 「行く」. Saya mengelompokkannya dengan verba perkecualian langganan yaitu 「する」 dan 「来る」 walaupun 「行く」 adalah verba-u biasa untuk seluruh konjugasi lainnya.

Konjugasi bentuk lampau untuk verba-u
Akhiran Taklampau perubahan… Lampau
す→した した


く→いた
ぐ→いだ
いた
いだ




む→んだ
ぶ→んだ
ぬ→んだ
んだ
んだ
んだ




る→った
う→った
つ→った
った
った
った
Perkecualian
Taklampau Lampau
する
くる
行く った*

* Perkecualian hanya untuk konjugasi ini

Contoh

(1) 今日は、走った
– Mengenai hari ini, tadi berlari.

(2) 友達が来た
– Teman adalah yang kemarin datang.

(3) 私も遊んだ
– Saya juga waktu itu bermain.

(4) 勉強は、した
– Mengenai belajar, tadi melakukan.

Bentuk negatif lampau untuk semua verba

Konjugasi bentuk negatif lampau memiliki aturan yang sama untuk semua verba. Kamu mungkin sudah sadar bahwa bentuk negatif dari segala sesuatu yang telah kita pelajari selalu berakhir dengan 「ない」. Aturan konjugasi untuk bentuk negatif lampau verba pada dasarnya sama seperti pada bentuk negatif lain yang juga diakhiri 「ない」. Jadi dari bentuk negatifnya, buang 「い」 dari akhiran 「ない」 lalu ganti dengan 「かった」.

Untuk merubah verba ke bentuk negatif lampau

  • Pertama ubah verbanya menjadi bentuk negatif lalu ganti 「い」 dengan 「かった」
  • 例)捨て → 捨てな → 捨てなかった
  • 例)行 → 行かな → 行かなかった

Contoh

(1) リナは食べなかった
– Mengenai Rina, tadi tidak makan.

(2) ジャヤがしなかった
– Jaya adalah yang kemarin tidak melakukan.

(3) アンドレも行かなかった
– Andre juga waktu itu tidak ikut.

(4) お金がなかった
– Waktu itu tidak ada uang.

(5) 私は買わなかった
– Mengenai saya, waktu itu tidak membeli.

(6) 猫はいなかった
– Waktu itu tidak ada kucing. (lit: mengenai kucing, waktu itu tidak ada)

Partikel untuk verba

Di bab ini, kita akan belajar beberapa partikel baru yang penting untuk penggunaan verba. Kita akan belajar cara menentukan objek langsung dari verba dan lokasi tempat verbanya terjadi.

Partikel objek langsung 「を」

Partikel pertama yang akan kita pelajari adalah partikel objek karena merupakan yang paling mudah dimengerti. Huruf 「を」 ditempelkan ke akhir suatu kata untuk menandakan bahwa kata tersebut merupakan objek langsung verbanya. Huruf ini bisa dibilang tidak pernah digunakan untuk keperluan lain. Oleh karenanya, padanan katakananya 「ヲ」 hampir tidak pernah ditemui karena partikel selalu ditulis dengan hiragana. Huruf 「を」, walaupun seharusnya berbunyi “wo”, pada umumnya diucapkan sebagai “o” di pembicaraan nyata. Inilah beberapa contoh penggunaan partikel objek langsung.

Contoh

(1) 魚食べる。
– Makan ikan.

(2) ジュース飲んだ。
– Tadi minum jus.

Tidak seperti konsep objek langsung di bahasa Indonesia, tempat juga bisa menjadi objek langsung verba gerakan seperti 「歩く」 dan 「走る」. Ini artinya kita bergerak melalui atau melintasi tempat tersebut. Bayangkan saja 「を」 menandakan objek injak-injakan kaki kita saat bergerak.

(3) 街ぶらぶら歩く。
– Berjalan sepanjang kota tanpa tujuan. (lit: Berjalan kota tanpa tujuan)

(4) 高速道路走る。
– Berlari melintasi jalan raya. (lit: Berlari jalan raya)

Kalau kamu menggunakan 「する」 dengan nomina, partikel 「を」 bisa dihilangkan dan kamu bisa menganggap seluruh [nomina+する] sebagai satu verba.

(5) 毎日、日本語を勉強する
– Belajar bahasa Jepang setiap hari.

(6) メールアドレスを登録した
– Telah mendaftarkan alamat email.

Partikel target 「に」

Partikel 「に」 menyatakan target dari verba. Ini berbeda dengan 「を」, di mana verbanya melakukan sesuatu terhadap objek langsung. Dengan 「に」, verbanya melakukan sesuatu menuju kata yang ditandai 「に」. Contohnya, tempat tujuan verba gerakan ditandai dengan 「に」.

Contoh

(1) ジャヤは日本行った。
– Jaya pergi ke Jepang. (lampau)

(2) 家帰らない。
– Tidak pulang ke rumah.

(3) 部屋くる。
– Datang ke kamar.

Bisa dilihat di contoh (3) bahwa partikel target selalu berarti tujuan (“ke”) dan bukan asal (“dari”). Kalau kamu ingin mengatakan misalnya “datang dari”, maka kamu perlu menggunakan 「から」 yang artinya “dari”. Dengan 「に」, artinya adalah “datang ke“. 「から」 sering berpasangan dengan 「まで」 yang artinya “sampai”.

(4) イチャは、インドネシアからきた。
– Icha datang dari Indonesia. (lampau)

(5) 宿題を今日から明日までする。
– Akan mengerjakan PR dari hari ini sampai besok.

Konsep target di bahasa Jepang sangatlah umum dan tidak terbatas pada verba gerakan. Contohnya, lokasi benda pada bahasa Jepang adalah target bagi verba keberadaan (ある dan いる). Waktu juga merupakan target umum. Ini adalah beberapa contoh verba nongerakan dan targetnya.

(6) 猫は部屋いる。
– Kucing ada di kamar.

(7) 椅子が台所あった。
– Waktu itu kursi ada di dapur.

(8) いい友達会った。
– Kemarin bertemu teman baik.

(9) リナは医者なる。
– Rina akan menjadi dokter.

(10) 先週図書館行った。
– Pergi ke perpustakaan minggu lalu.

Catatan: Jangan lupa untuk menggunakan 「ある」 untuk tanaman dan benda mati seperti kursi dan 「いる」 untuk benda hidup bergerak seperti kucing.

Walaupun partikel 「に」 tidak selalu dibutuhkan untuk menyatakan waktu, ada sedikit perbedaan arti antara kalimat yang menggunakannya dan yang tidak menggunakan apa-apa sama sekali. Di contoh berikut, partikel target membuat tanggalnya menjadi target khusus sehingga menekankan bahwa temannya akan pergi ke Jepang pada waktu tersebut. Tanpa partikelnya, tidak ada penekanan khusus.

(11) 友達は、来年、日本に行く。
– Tahun depan, teman akan pergi ke Jepang.

(12) 友達は、来年日本に行く。
– Teman akan pergi ke Jepang tahun depan.

Partikel arah 「へ」

Walaupun 「へ」 umumnya diucapkan “he”, saat digunakan sebagai partikel dia selalu diucapkan “e”. Beda utama antara partikel 「に」 dan 「へ」 adalah bahwa 「に」 memandang targetnya sebagai tujuan akhir (baik kongkrit maupun abstrak). Di lain pihak, 「へ」 lebih menyatakan bahwa kita bergerak ke arah tertentu, tapi tidak menjamin bahwa itu adalah tujuan akhirnya. Karenanya, 「へ」 hanya digunakan untuk verba gerakan. Dengan kata lain, partikel 「に」 menyatakan targetnya dengan pasti sedangkan 「へ」 lebih samar-samar tentang tujuan akhirnya. Sebagai contoh, kalau kita mengganti 「に」 dengan 「へ」 pada tiga contoh yang tadi telah muncul, nuansanya sedikit berubah.

Contoh

(1) ジャヤは日本行った。
– Jaya pergi ke arah Jepang. (lampau)

(2) 家帰らない。
– Tidak pulang ke arah rumah.

(3) 部屋くる。
– Datang ke arah kamar.

Untuk memperjelas, misalnya kita mengatakan “Orang itu lari ke arah utara”. Kita bisa mengatakan hal tersebut tanpa perlu tahu tujuan sebenarnya si orang itu. Bisa saja, setelah berlari beberapa ratus meter orang tersebut ternyata belok ke timur karena memang tempat yang ditujunya ada di situ. Inilah esensi 「へ」 yang lebih menyatakan arah gerakan namun tidak menjamin apapun mengenai tujuan akhirnya.

Kita tidak bisa menggunakan partikel 「へ」 untuk verba yang tidak memiliki arah fisik. Contoh berikut salah:

(誤) 医者なる。
– (Versi salah dari 「医者になる」.)

Ini tidak berarti 「へ」 tidak bisa digunakan untuk konsep abstrak. Bahkan, karena arti arah yang samar dari partikel ini, 「へ」 juga bisa digunakan untuk membicarakan sasaran masa mendatang dan harapan.

(4) 勝ち向かう。
– Menuju kemenangan.

Partikel konteks 「で」

Partikel 「で」 memungkinkan kita menyatakan konteks pelaksanaan verbanya. Misalnya, jika seseorang makan ikan, di mana dia makan? Lalu, jika seseorang pergi ke sekolah, dengan kendaraan apa dia pergi? Dengan alat apa kamu makan? Semua pertanyaan tadi bisa dijawab dengan partikel 「で」. Ini beberapa contohnya.

Contoh

(1) 映画館見た。
– Melihat di bioskop.

(2) バス帰る。
– Pulang dengan bis.

(3) レストラン昼ご飯を食べた。
– Tadi makan siang di restoran.

Pada dasarnya, 「で」 berarti “dengan cara”. Namun untuk tempat, kata bahasa Indonesia yang lebih cocok adalah “di”.

Menggunakan 「で」 dengan 「何」

Di bahasa Jepang, “apa” (何) cukup menyebalkan karena walaupun pada umumnya dibaca 「なに」, kadang-kadang dia dibaca 「なん」 tergantung pada penggunaannya. Karena selalu ditulis menggunakan kanji, kamu tidak bisa tahu dari penulisannya. Untuk awal, saya menyarankan kamu membacanya 「なに」 sampai ada yang mengoreksi kamu bahwa untuk kasus tersebut bacaannya adalah 「なん」. Jika ditempel partikel 「で」, cara membacanya adalah 「なに」. (Gunakan kursor mouse kamu untuk mencek bacaannya di sini.)

(4) 何きた?
– Tadi datang dengan cara apa?

(5) バスきた。
– Tadi datang dengan bis.

Inilah bagian yang membingungkan. Bahasa Jepang “kenapa” adalah 「どうして」 atau versi lainnya yang terdengar lebih kuat 「なぜ」. Namun yang paling sering dipakai adalah versi percakapannya yaitu 「なんで」 yang ditulis 「何で」! Ini adalah kata yang berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan partikel 「で」.

(1) 何できた?
– Kenapa kamu datang?

(2) 暇だから。
– Karena sedang ada waktu luang.

「から」 yang muncul di sini artinya “karena”, beda dengan 「から」 yang kita pelajari sebelumnya. Pembahasan sepenuhnya ada di bab kalimat gabungan. Inti dari contoh tersebut adalah bahwa dua kalimat yang ditulis persis sama bisa dibaca berbeda dan artinya juga berbeda. Jangan khawatir, masalahnya tidak sebesar kelihatannya sebab di sebagian besar kasus, cara membaca yang kedua (「なんで」) adalah yang lebih umum. Dan kalaupun yang diinginkan adalah 「なにで」, konteks pembicaraannya akan membuatnya jelas. Bahkan dalam contoh pendek ini pun kamu sudah bisa tahu mana cara membaca yang benar dengan melihat jawaban pertanyaannya.

Saat tempat menjadi topik

Ada kasus-kasus saat lokasi suatu aksi juga merupakan topik kalimat. Kamu bisa menempelkan partikel topik (「は」 dan 「も」) ke tiga partikel yang berhubungan dengan lokasi (「に」、「へ」、「で」) saat lokasinya adalah topik. Di contoh berikut kita bisa melihat bagaimana lokasi juga bisa menjadi topik.

Contoh 1

ジャヤ: 学校に行った?
– (Apakah kamu kemarin) pergi ke sekolah?

ギタ: 行かなかった。
– Tidak pergi.

ジャヤ: 図書館には
– Kalau ke perpustakaan?

ギタ: 図書館にも行かなかった。
– Ke perpustakaan juga tidak pergi.

Di contoh ini, Jaya mengangkat topik baru (perpustakaan) sehingga lokasinya juga menjadi topik. Kalimatnya sebetulnya versi singkat dari 「図書館には行った?」.

Contoh 2

アンドレ: どこで食べる?
– Makan di mana?

リナ: イタリアレストランではどう?
– Bagaimakan kalau di restoran Italia?

Di sini Rina menyarankan restoran Italia. Kalimat seperti “Bagaimana kalau…” biasanya mengangkat topik baru karena orangnya menyarankan sesuatu yang baru. Dalam kasus ini, lokasinya (restoran) menjadi saran sehingga dia menjadi topik.

Saat objek langsung menjadi topik

Partikel objek langsung berbeda dengan partikel yang berhubungan dengan tempat sebab kamu tidak bisa menggabungnya dengan partikel lain. Sebagai contoh, dengan membaca bagian sebelumnya kamu mungkin menebak bahwa kita juga bisa mengatakan 「をは」 untuk menyatakan objek langsung yang juga menjadi topik. Tapi caranya bukan seperti itu. Suatu topik juga bisa merupakan objek langsung tanpa menggunakan partikel 「を」. Menggunakan 「を」 malah akan membuat kalimatnya salah.

Contoh

(1) 日本語習う。
– Belajar bahasa Jepang.

(2) 日本語、習う。
– Mengenai bahasa Jepang, (akan) belajar.

Jangan melakukan kesalahan berikut:

(誤) 日本語をは、習う。
– [Kalimat yang salah.]

Verba transitif dan intransitif

Di bahasa Jepang, kadang-kadang ada pasangan verba yang intinya sama yaitu verba transitif dan intransitif. Bedanya adalah verba transitif melibatkan aksi oleh pelaku aktif sedangkan pada verba intransitif aksi terjadi tanpa pelaku langsung. Di bahasa Indonesia bisa digunakan imbuhan untuk membedakannya, misalnya “saya menjatuhkan bolanya” (pelakunya “saya”) vs. “bolanya jatuh” (tanpa pelaku). Di bahasa Jepang ini menjadi 「ボールを落とした」 vs. 「ボールが落ちた」. Contohnya lainnya adalah “memasukkan ke kotak” (箱に入れる) vs. “masuk ke kotak” (箱に入る). Bisa juga di bahasa Indonesia digunakan kata yang berbeda untuk pasangan tersebut, misalnya “menghapus” (消す) vs. “menghilang” (消える). Yang paling susah adalah jika di bahasa Indonesia digunakan kata yang sama, misalnya pada “saya membuka pintu” vs. “pintunya membuka”. Menggunakan cara berpikir di bahasa Jepang, verba transitif dan intransitif sebetulnya menggambarkan aksi yang sama. Mengetahui istilahnya tidaklah penting, tapi kamu harus tahu mana yang mana agar bisa memilih verba dan partikel yang benar.

Karena arti dasar dan kanjinya sama, kamu bisa belajar dua verba dengan harga satu kanji! Mari kita lihat contoh beberapa verba transitif dan intransitif.

Verba transitif dan intransitif
Transitif Intransitif
落とす menjatuhkan 落ちる jatuh
出す mengeluarkan 出る keluar
入れる memasukkan 入る masuk
開ける membuka 開く membuka
(menjadi terbuka)
閉める menutup 閉まる menutup
(menjadi tertutup)
付ける menempelkan 付く menempel
消す menghapus 消える menghilang
抜く mencopot 抜ける copot

Perhatikan partikelnya!

Pelajaran paling penting di sini adalah mengenai partikel yang benar untuk verba yang bersangkutan. Tentunya prasyarat utamanya adalah tahu apakah verba yang bersangkutan transitif atau intransitif. Pada kamus WWWJDIC, verba transitif ditandai dengan “vt” dan verba intransitif ditandai “vi”. Namun penandaan pada WWWJDIC masih dalam pengerjaan sehingga mungkin belum komprehensif. Jadi saya menyarankan untuk melihat contoh kalimat dari WWWJDIC atau Yahoo!辞書. Contohnya, dengan melihat contoh kalimat 「付ける」 dari WWWJDIC dan Yahoo!辞書, kamu bisa tahu bahwa itu verba transitif karena ada partikel 「を」.

Contoh

(1) 私が電気付けた。- Sayalah yang menyalakan lampu.
(2) 電気付いた。- Lampunya menyala.
(3) 電気消す。- Mematikan lampu.
(4) 電気消える。- Lampu mati.
(5) 誰が窓開けた?- Siapa yang membuka jendela?
(6) 窓どうして開いた?- Kenapa jendelanya membuka?

Hal yang penting untuk diingat adalah verba intransitif tidak bisa memiliki objek langsung karena tidak ada pelaku langsungnya. Contoh-contoh berikut secara tata bahasa salah.
(誤) 電気付いた。- (「を」 seharusnya diganti 「が」 atau 「は」)
(誤) 電気消える。- (「を」 seharusnya diganti 「が」 atau 「は」)
(誤) どうして窓開いた?- (「を」 seharusnya diganti 「が」 atau 「は」)

Satu-satunya kasus di mana partikel 「を」 bisa digunakan dengan verba intransitif adalah saat suatu lokasi menjadi objek langsung verba gerakan.

(1) 部屋出た。- Keluar kamar.

Memperlakukan verba dan pernyataan keadaan benda sebagai adjektiva

Apakah kamu sadar bahwa berbagai konjugasi verba dan pernyataan keadaan benda mirip dengan adjektiva-i? Ini karena, dilihat dari sudut pandang tertentu, mereka memang adjektiva. Misalnya perhatikan kalimat “Orang yang tidak makan itu pergi ke bank”. Di sini “tidak makan” mendeskripsikan si “orang”, dan di bahasa Jepang kamu bisa memodifikasi nomina “orang” langsung dengan klausa “tidak makan” sebagaimana adjektiva biasa. Kalau kamu sudah paham metode yang sangat sederhana ini, kamu bisa memodifikasi nomina dengan frasa verba apapun!

Menggunakan subklausa pernyataan keadaan benda sebagai adjektiva

Konjugasi nomina negatif, lampau, dan negatif lampau bisa digunakan seperti adjektiva untuk langsung memodifikasi nomina. Tapi, kita tidak bisa melakukan ini untuk pernyataan keadaan positif taklampau yang menggunakan 「だ」. (Saya telah menyebutkan sebelumnya bahwa 「だ」 cukup merepotkan) Bahasa Jepang punya partikel untuk kasus perkecualian ini, yang akan kita bahas di bab berikutnya.

Kamu tidak bisa menggunakan 「だ」 untuk langsung memodifikasi nomina dengan nomina lain,
tapi kamu bisa melakukannya dengan 「だった」、「じゃない」、dan 「じゃなかった」.

Tapi kamu bisa merangkai nomina secara berjejeran jika mereka tidak dimaksudkan untuk memodifikasi satu sama lain. Contohnya, pada frasa seperti “Pusat Pendidikan Internasional”, kamu bisa melihat bahwa itu hanyalah serangkaian nomina yang tidak melakukan modifikasi tata bahasa apapun. Yang tertulis bukanlah “Pusat Pendidikan yang Internasional” atau “Pusat untuk Pendidikan Internasional”, tapi hanya “Pusat Pendidikan Internasional”. Di bahasa Jepang, hal ini juga bisa dinyatakan dengan sederhana sebagai 「国際教育センタ」 (atau 「センター」). Kamu akan banyak menemukan rantai nomina seperti ini. Kadang-kadang, kombinasi tertentu sangatlah umum sehingga bisa dianggap sebagai suatu kata sendiri dan bahkan didaftar sebagai suatu kata pada kamus-kamus tertentu. Beberapa contohnya adalah 「登場人物」、「立入禁止」、dan 「世界大戦」. Kalau kamu kesulitan melakukan pembagian katanya, kamu bisa masukkan teksnya ke fasilitas penerjemah kata pada kalimat WWWJDIC dan situs tersebut akan memberikan jawabannya (umumnya).

Contoh

Inilah contoh beberapa modifikasi nomina langsung dengan klausa nomina terkonjugasi. Klausa nominanya diwarnai berbeda.

(1) 学生じゃない人は、学校に行かない。
– Orang yang bukan murid tidak pergi ke sekolah.

(2) 子供だったリナが立派な大人になった。
– Rina yang dulu anak kecil menjadi orang dewasa yang elegan.

(3) 友達じゃなかったリナは、いい友達になった。
– Rina yang dulu bukan teman menjadi teman baik.

(4) 先週に医者だったジャヤは、仕事を辞めた。
– Jaya yang minggu lalu adalah dokter keluar dari pekerjaannya.

Menggunakan klausa verba subordinat sebagai adjektiva

Klausa verba juga bisa digunakan seperti adjektiva untuk memodifikasi nomina. Contoh-contoh berikut akan menunjukkan bagaimana hal tersebut memberikan kita kemampuan untuk membuat kalimat yang cukup kompleks dan rinci. Verba klausanya diwarnai berbeda.

Contoh

(1) 先週に映画を見た人は誰?
– Siapa orang yang menonton film minggu lalu?

(2) アンドレは、いつも勉強する人だ。
– Andre adalah orang yang selalu belajar.

(3) 赤いズボンを買う友達はジャヤだ。
– Teman yang membeli celana panjang merah adalah Jaya.

(4) 晩ご飯を食べなかった人は、映画で見た銀行に行った。
– Orang yang tidak makan malam pergi ke bank yang dia lihat di film.

Urutan kata pada kalimat bahasa Jepang

Karena kita telah belajar konsep klausa subordinat dan fungsinya sebagai batu bata untuk membangun kalimat, sekarang saya bisa membahas tentang urutan kata pada kalimat bahasa Jepang. Ada mitos tentang urutan ini yang tersebar dan menjangkiti banyak pemula. Kita akan melihat masalah ini.

Struktur kalimat paling sederhana di bahasa Indonesia bisa dituliskan sebagai berikut: [Subjek] [Verba] [Objek]. Suatu kalimat menjadi kacau jika urutan itu dibolak-balik. Misalnya, artinya bisa berubah dari “Kamu makan ikan” menjadi “Kamu ikan makan” (Kamu adalah ikan yang makan?). Bahasa Inggris juga kebetulan strukturnya adalah [Subjek] [Verba] [Objek].

Di lain sisi, para pelajar bahasa Jepang akan dengan bangga dan PD menyatakan bahwa bahasa Jepang urutannya terbalik! Bahkan beberapa guru bahasa Jepang juga akan mengajarkan bahwa urutan dasar kalimat bahasa Jepang adalah [Subjek] [Objek] [Verba]. Ini adalah contoh klasik memaksakan bahasa Jepang ke dalam kerangka berpikir bahasa-bahasa barat. Tentu saja, kita semua tahu (iya kan?) bahwa urutan sebenarnya dari kalimat bahasa Jepang fundamental adalah: [Verba]. Apapun yang muncul sebelum verbanya tidak harus muncul dengan urutan tertentu dan sebetulnya hanya dengan verba suatu kalimat sudah benar dan lengkap. Yang perlu diingat hanyalah bahwa verba harus selalu muncul di akhir. Kalau tidak, buat apa kita punya partikel? Alasan satu-satunya partikel dipakai adalah agar peran suatu kata bisa diketahui di manapun letaknya pada kalimat. Tidak ada aturan yang melarang kita membuat kalimat [Objek] [Subjek] [Verba] atau bahkan hanya [Objek] [Verba]. Semua kalimat di bawah ini benar dan lengkap karena ada verba di akhir kalimatnya.

Kalimat-kalimat yang secara tata bahasa sudah lengkap dan urutannya benar

(1) 私は公園でお弁当を食べた
(2) 公園で私はお弁当を食べた
(3) お弁当を私は公園で食べた
(4) 弁当を食べた
(5) 食べた

Jadi kamu tidak perlu sampai keluar keringat dingin memikirkan apakah kalimatmu sudah benar urutannya. Ingat saja aturan berikut:

Urutan pada kalimat bahasa Jepang

  1. Kalimat yang lengkap membutuhkan verba utama di akhir. Ini juga termasuk pernyataan keadaan benda yang tersirat.
    例) 食べた
    例) 学生(だ)
  2. Kalimat lengkap (klausa subordinat) bisa digunakan untuk memodifikasi nomina. (Kecuali satu kasus yaitu 「だ」, lihat pembahasan di atas)
    例) お弁当を食べた学生が公園に行った。

Tiga partikel terakhir (bohong!)

Kita telah membahas konstruksi-konstruksi ampuh yang memungkinkan kita menyatakan hampir semua yang kita inginkan. Kita akan melihat bagaimana partikel 「の」 memberikan kita kemampuan tambahan dengan memungkinkan kita menyatakan nomina abstrak generik. Kita juga akan belajar cara memodifikasi nomina langsung dengan nomina. Tiga partikel baru yang akan kita pelajari bisa mengelompokkan nomina dengan cara yang berbeda.Ini pelajaran terakhir yang akan secara khusus membahas partikel, tapi ini tidak berarti bahwa tidak ada partikel tambahan lagi. Kita akan belajar lebih banyak partikel di tengah jalan tapi mereka tidak akan disebut secara eksplisit sebagai partikel. Selama kamu tahu apa artinya dan cara menggunakannya, tidak terlalu penting apakah kamu tahu meraka partikel atau bukan.

Partikel inklusif 「と」

Partikel 「と」 mirip dengan 「も」 karena sama-sama mengandung arti inklusif. 「と」 menggabungkan dua atau lebih nomina dengan arti “dan”.(1) スプーンフォークで魚を食べた。- Makan ikan dengan sendok dan garpu.
(2) 本雑誌葉書を買った。- Membeli buku, majalah, dan kartu pos.

Kegunaan lain 「と」 yang mirip adalah untuk menyatakan aksi yang dilakukan bersama orang lain.
(1) 友達話した。- Berbicara dengan teman.
(2) 先生会った。 – Bertemu dengan guru.

Partikel pendaftar samar 「や」 dan 「とか」

Partikel 「や」, persis seperti partikel 「と」, digunakan untuk mendaftar nomina. Hanya saja sifatnya lebih samar dari 「と」. Makna yang terkandung adalah mungkin ada hal-hal tambahan yang tidak ikut didaftar, dan mungkin saja tidak semua benda yang didaftar sesuai. Di bahasa Indonesia, kamu bisa menganggapnya mirip daftar yang menggunakan “dst.”.(1) 飲み物カップナプキンは、いらない?- Kamu tidak perlu (hal-hal seperti) minuman, gelas, serbet, dan yang lainnya?
(2) 靴シャツを買う。- Membeli (hal-hal semacam) sepatu, baju, dll…

「とか」 juga artinya sama dengan 「や」 tapi lebih untuk bahasa percakapan.
(1) 飲み物とかカップとかナプキンは、いらない?- Kamu tidak perlu (hal-hal seperti) minuman, gelas, serbet, dan yang lainnya?
(2) 靴とかシャツを買う。- Membeli (hal-hal semacam) sepatu, baju, dll…

Partikel 「の」

Partikel 「の」 adalah partikel yang ampuh karena memiliki banyak guna. Partikel tersebut dikenalkan di sini karena seperti partikel 「と」 dan 「や」, dia bisa digunakan untuk menghubungkan nomina. Kita lihat beberapa contohnya.(1) ジャヤ本。- Buku yang bersifat Jaya.
(2) 本ジャヤ。- Jaya yang bersifat buku.

Contoh pertama maksudnya adalah “buku milik Jaya”. Kamu akan sangat sering menjumpai 「の」 yang memiliki arti kepemilikan seperti ini. Contoh lain yang artinya sama adalah 「私の先生」 yaitu ‘guru milik saya’ (guru saya).

Contoh kedua kemungkinan besar kalimat salah, tapi bisa saja kita bayangkan suatu dunia fantasi di mana benda-benda seperti buku, kursi, dan cangkir hidup sehingga bisa bergerak dan tertawa seperti kita. Kalau ada buku yang bernama Jaya, maka contoh kedua menggambarkannya dengan tepat: “Jaya yang merupakan buku”. Contoh lain yang artinya sama adalah 「母の ギタ」 yang artinya “Gita yang merupakan sang ibu” (untuk kontras dengan “Rina yang merupakan anaknya” dan “Toni, bapaknya” misalnya).

Intinya, partikel 「の」 memungkinkan nomina bertindak layaknya adjektiva, memodifikasi nomina lainnya. Itulah alasan digunakannya ‘yang bersifat’ pada terjemahan literalnya. Bisa dilihat dari contoh (2) bahwa 「の」 tidak harus selalu berarti kepemilikan seperti pada (1). Inilah contoh lainnya.

(1) ジャヤは、インドネシア大学学生だ。- Jaya adalah murid universitas Indonesia.
Di sini maksudnya tentu saja adalah suatu universitas yang berada di Indonesia (bukan UI!). Perhatikan urutan modifikasinya, yaitu Jaya adalah murid dari universitas yang bersifat Indonesia. Kebalikannya yaitu 「学生の大学のインドネシア」 berarti “Indonesia yang bersifat universitas murid” dan tidak masuk akal.

Nomina yang dimodifikasi bisa dihilangkan jika dari konteks sudah jelas apa yang dihilangkan. Contoh berikut menunjukkan bagaimana kata-kata yang tidak perlu bisa dihilangkan.
(1) そのシャツは誰のシャツ?- Baju itu baju milik siapa?
(2) ジャヤのシャツだ。- Baju milik Jaya.
bisa menjadi:
(1) そのシャツは誰?- Baju itu milik siapa?
(2) ジャヤだ。- Milik Jaya.
(「その」 adalah singkatan 「それ+の」 jadi dia langsung memodifikasi nomina karena memiliki partikel 「の」 intrinsik. Kata sejenis misalnya 「この」 dari 「これの」 dan 「あの」 dari 「あれの」.)

Penggunaan 「の」 seperti ini pada intinya menggantikan nominanya dan bahkan partikel 「の」 berperan menjadi nominanya. Kita pada dasarnya bisa memperlakukan adjektiva dan verba seperti nomina dengan menambahkan partikel 「の」. Partikelnya akan menjadi nomina generik, dan kita bisa memperlakukannya layaknya nomina biasa.
(1) 白いのは、かわいい。- Benda yang putih bersifat imut.
(2) 授業に行くのを忘れた。- Lupa hal pergi ke kelas.

Perhatikan bahwa di bahasa Indonesia kita bisa dengan sederhana mengatakan “lupa pergi” karena entah bagaimana di bahasa Indonesia verba juga bisa langsung menempati posisi-posisi nomina. Namun di bahasa Jepang, verba harus diubah menjadi nomina sebelum hal itu bisa dilakukan. Makannya, “pergi” harus diubah dulu menjadi “hal pergi” di contoh (2).

Dengan 「の」, sekarang kita bisa menggunakan partikel objek langsung, topik, dan pengidentifikasi dengan verba dan adjektiva. Kita tidak harus menggunakan partikel 「の」 di sini. Kita bisa menggunakan nomina 「物」, yang merupakan benda generik, atau 「こと」 untuk kejadian generik. Contohnya, kita juga bisa mengatakan:
(1) 白いは、かわいい。- Benda yang putih bersifat imut.
(2) 授業に行くことを忘れた。- Lupa hal pergi ke kelas.

Namun, partikel 「の」 sangatlah berguna karena kamu tidak perlu menyatakan nomina apapun. Di contoh berikutnya, partikel 「の」 tidak menggantikan nomina apapun, namun hanya memungkinkan kita memodifikasi klausa verba dan adjektiva layaknya klausa nomina. Klausa subordinatnya ditandai.
(1) 毎日勉強するのは大変。 – Hal belajar setiap hari bersifat berat.
(2) 毎日同じ物を食べるのは、面白くない。- Hal makan benda sama setiap hari tidak menarik.
Kamu mungkin sadar bahwa kata 「同じ」 langsung memodifikasi 「物」 walaupun dia jelas bukan adjektiva-i. Saya tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Satu kemungkinan adalah bahwa dia sebetulnya adalah adverbia, yang akan kita lihat nanti tidak butuh partikel.

Tentunya, bahkan saat menggunakan 「の」 untuk menggantikan nomina, kamu tetap perlu 「な」 untuk memodifikasi nominanya saat adjektiva-na digunakan.
(1) 静か部屋が、リナの部屋だ。- Kamar yang hening adalah kamar milik Rina.
menjadi:
(1) 静かのが、リナの部屋だ。- Yang hening adalah kamar milik Rina.

Partikel 「の」 dalam memberi penjelasan

Partikel 「の」 yang ditempelkan di akhir kalimat juga bisa memberi nuansa penjelasan ke kalimatmu. Misalnya, kalau seseorang bertanya apakah kamu punya waktu, kamu bisa menggunakan 「の」 di akhir jawabanmu karena kamu memberi penjelasan ke orang tersebut. Arti yang dikandung sepertinya agak susah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini contohnya:
(1) 今は忙しい。- (Saya) sekarang sibuk. (nuansa memberi penjelasan)Ini terdengar sangat halus dan feminim. Laki-laki dewasa hampir selalu akan menambahkan deklaratif 「だ」 kecuali kalau mereka ingin sengaja terdengar imut.
(2) 今は忙しいのだ。- (Saya) sekarang sibuk. (nuansa memberi penjelasan)

Tapi karena deklaratif 「だ」 tidak bisa digunakan di pertanyaan, 「の」 yang sama di pertanyaan tidak membawa nada feminim dan digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.
(3) 今は忙しい?- Apa sekarang (kamu) sibuk? (nuansa meminta penjelasan, untuk penanya laki-laki maupun perempuan)

Dalam menyatakan keadaan benda, saat 「の」 digunakan untuk nada penjelasan ini, kita perlu menambah 「な」 untuk membedakannya dengan partikel 「の」 yang bisa berarti kepemilikan.
(1) リザのだ。- Adalah milik Riza.
(2) リザのだ。- Adalah Riza. (dengan nuansa memberi penjelasan).
Selain kasus ini, yang lainnya tetap sama seperti sebelumnya.

Pada kenyataannya, walaupun nuansa memberi penjelasan ini digunakan setiap saat, 「のだ」 umumnya digantikan oleh 「んだ」. Mungkin ini karena 「んだ」 lebih mudah diucapkan daripada 「のだ」. Tata bahasa ini bisa terlihat memiliki banyak arti karena dia tidak hanya bisa digunakan dengan berbagai bentuk adjektiva, nomina, dan verba, tapi dia sendiri juga bisa dikonjugasikan seperti keadaan benda. Tabel konjugasinya akan menunjukkan kamu apa maksudnya.

Sebetulnya tidak ada yang baru di sini. Tabel pertama hanya menambahkan 「んだ」 (atau 「なんだ」) ke verba, nomina, atau adjektiva yang terkonjugasi. Tabel kedua menambahkan 「んだ」 (atau 「なんだ」) ke verba, nomina, atau adjektiva yang tidak terkonjugasi lalu mengkonjugasikan bagian 「だ」 dari 「んだ」 seperti pada pernyataan keadaan benda untuk nomina dan adjektiva-na. Jangan lupa untuk selalu menambahkan 「な」 pada nomina dan adjektiva-na.

「んだ」 ditempelkan ke berbagai konjugasi
(Kamu bisa mensubstitusi 「の」 atau 「のだ」 untuk 「んだ」)
Nomina/Adj-na Verba/Adj-i
Dasar 学生なんだ 飲むんだ
Negatif 学生じゃないんだ 飲まないんだ
Lampau 学生だったんだ 飲んだんだ
Negatif lampau 学生じゃなかったんだ 飲まなかったんだ
「んだ」-nya sendiri dikonjugasi
(Kamu bisa mensubsitusi 「の」 untuk 「ん」 dan 「の」 atau 「のだ」 untuk 「んだ」)
Nomina/Adj-na Verba/Adj-i
Dasar 学生なんだ 飲むんだ
Negatif 学生なんじゃない 飲むんじゃない
Lampau 学生なんだった 飲むんだった
Negatif lampau 学生なんじゃなかった 飲むんじゃなかった

Sepertinya bentuk lampau dan negatif lampau untuk nomina/adjektiva-na di tabel kedua hampir tidak pernah digunakan (terutama dengan 「の」) tapi saya sertakan untuk kelengkapan.

Beda utama antara menggunakan 「の」 dengan tidak menggunakan apa-apa adalah bahwa kamu mengatakan ke pendengarnya, “Dengar, ini alasannya”, tidak hanya sekedar memberi informasi baru. Sebagai contoh, jika ada yang bertanya “Apa kamu sekarang sibuk?” kamu bisa dengan sederhana menjawab 「今は忙しい」. Tapi jika ada yang bertanya “Kenapa kamu tidak bisa bicara denganku?”, karena jelas bahwa kamu perlu memberi penjelasan, kamu akan menjawab 「今は忙しいの」 atau 「今は忙しいん だ」. Tata bahasa ini penting untuk meminta penjelasan pada pertanyaan. Misalnya, kalau kamu ingin bertanya “Eh, bukannya (sudah) telat?” kamu tidak bisa hanya bertanya 「遅くない?」 karena itu artinya “Tidak telat?” dan hanya meminta jawaban “ya” atau “tidak”. Kalau kamu butuh suatu penjelasan, kamu perlu bertanya dalam bentuk 「遅いんじゃない?」.

Mari kita lihat contoh-contoh situasi yang menggunakan tata bahasa ini. Karena 「の」 seringkali susah diterjemahkan, maka nuansa yang dikandungnya hanya akan dituliskan dalam tanda kurung.

Contoh 1

リナ: どこに行く?- Mau pergi ke mana? (meminta penjelasan)
ジャヤ: 授業に行くんだ。- Masuk ke kelas. (nada menjelaskan)

Contoh 2

リナ: 今、授業があるんじゃない?- Bukannya sekarang ada kelas? (menyangka ada kelas)
ジャヤ: 今は、ないんだ。- Sekarang tidak ada. (nada menjelaskan)

Contoh 3

リナ: 今、授業がないんじゃない?- Bukannya sekarang tidak ada kelas? (menyangka tidak ada kelas)
ジャヤ: ううん、ある。- Tidak, (sekarang) ada.

Contoh 4

リナ: その人が買うんじゃなかったの?- Bukannya orang itu tadi akan membeli? (menyangkan orangnya akan membeli)
ジャヤ: ううん、先生が買うんだ。- Tidak, guru adalah yang akan membeli. (nada menjelaskan)

Contoh 5

リナ: 朝ご飯を食べるんじゃなかった。 – Seharusnya tadi tidak sarapan. (menjelaskan bahwa sarapannya seharusnya tidak dimakan)
ジャヤ: どうして? – Kenapa?Jangan khawatir kalau kamu sekarang benar-benar bingung, kita akan bertemu lebih banyak contoh lagi nanti yang akan meningkatkan pemahamanmu. Setelah kamu bisa merasa-rasa bagaimana segala sesuatunya bekerja, lebih baik melupakan terjemahan Indonesianya karena negatif dobel dan tripelnya bisa menjadi cukup membingungkan seperti pada contoh 3. Tapi di bahasa Jepang itu adalah ekspresi yang sangat normal, dan kamu akan sadar hal tersebut saat kamu menjadi semakin akrab dengan bahasa Jepang.

Kenapa adverbia dan gobi?

Sebetulnya keduanya tidak saling berhubungan tetapi saya memutuskan untuk menggabungkannya dalam satu bab karena kita hanya akan membahas dua gobi paling umum untuk saat ini. Hal tersebut terlalu pendek untuk dijadikan bab tersendiri.

Cara kerja adverbia

Adverbia atau kata keterangan adalah bagian kalimat yang menjelaskan bagaimana suatu verba dikerjakan. Misalnya, pada kalimat “Dia berlari dengan cepat” adverbianya adalah “dengan cepat”. Bisa dilihat bahwa adverbia tersebut menggunakan adjektiva “cepat”.

Di bahasa Jepang, mengubah adjektiva menjadi adverbia caranya sangat sederhana. Lalu, karena sistem partikel bahasa Jepang menyebabkan urutan kata pada kalimatnya fleksibel, kamu bisa menempatkan adverbia di mana saja asalkan sebelum verba yang bersangkutan. Sebagaimana biasanya, kita punya dua aturan berbeda: satu untuk ajektiva-i dan satu lagi untuk adjektiva-na.

Cara mengubah adjektiva menjadi adverbia

  • adjektiva-i: Ganti 「い」 dengan 「く」.
    例) 早 → 早
  • adjektiva-na: Tambahkan partikel target 「に」.
    例) きれい → きれい

(1) ジャヤは朝ご飯を早く食べた。- Jaya sarapan dengan cepat.
Adverbia 「早く」 sedikit beda dengan bahasa Indonesia ‘cepat’, karena maksudnya bisa kecepatan atau waktu kejadian, tergantung konteksnya. Dengan kata lain, kalimat di atas bisa juga berarti bahwa Jaya makan sarapan pagi-pagi sekali. Di kalimat lain seperti 「早く走った」, kemungkinan besar artinya ‘cepat’ dan bukan ‘gasik’. Namun sekali lagi semuanya bergantung pada konteks.

(2) リナは自分の部屋をきれいにした。- Rina melakukan (mengerjakan) kamarnya menuju bersih.
Terjemahan literalnya memberikan sedikit petunjuk tentang alasan digunakannya partikel target. Pendapat tertentu tidak setuju menganggapnya sebagai adverbia, tapi bagi kita itu adalah hal yang praktis. Dengan menganggapnya adverbia, kita bisa menginterpretasikannya sebagai “Rina mengerjakan kamarnya dengan bersih” yang sebetulnya berarti “Rina membersihkan kamarnya” pada bahasa Indonesia. 「きれい」 secara literal berarti ‘cantik’, jadi kamu juga bisa menganggapnya sebagai “Rina mempercantik kamarnya”.

Catatan: Tidak semua adverbia diturunkan dari adjektiva. Beberapa kata seperti 「全然」 dan 「たくさん」 adalah adverbia dengan sendirinya. Kata-kata tersebut bisa digunakan tanpa partikel.
(1) 映画をたくさん見た。- Menonton banyak film.
(2) 最近、全然食べない。- Akhir-akhir ini, tidak makan sama sekali.

Mari kita lihat contoh penggunaan adverbia yang lain:
(1) アンドレの声は、結構大きい。 – Suara Andre cukup besar.
(2) この町は、最近大きく変わった。- Kota ini banyak berubah akhir-akhir ini.
(3) 図書館の中では、静かにする。- Di dalam perpustakaan, [kita] melakukan [aktivitas] dengan hening.

Apa itu “gobi”?

Di bagian ini, kita akan membahas dua gobi yang paling banyak dipakai. 「語尾」 secara literal berarti “buntut bahasa” dan maksudnya adalah apapun yang muncul di akhir kalimat atau kata. Di tutorial ini, saya akan menggunakannya untuk menunjuk pada satu atau dua huruf hiragana yang selalu muncul di akhir kalimat karena tidak ada istilah lain yang saya ketahui. Akhiran ini seringkali susah untuk diterangkan karena banyak dari mereka yang sebetulnya tidak punya arti tertentu. Tapi mereka bisa mengubah ‘nuansa’ atau ‘rasa’ suatu kalimat. Dua yang akan kita bahas di sini bisa diterjemahkan dan digunakan cukup sering.

Gobi 「ね」

Orang biasanya menambahkan 「ね」 ke akhir kalimat saat mereka meminta (dan berharap) persetujuan atas apa yang mereka katakan. Ini sama seperti “kan?” atau “ya?” pada bahasa Indonesia.

Contoh 1

ジャヤ: いい天気だ。- Cuacanya baik ya?
リナ: そう。- Iya ya?
Terjemahan 「そうね」 yang diberikan yaitu “Iya ya?” bisa berarti dua yaitu ragu dan setuju, tergantung intonasi pengucapannya. Yang dimaksud di sini adalah yang menyatakan persetujuan, dengan kata lain “Iya, memang.” Laki-laki mungkin lebih memilih 「そうだね」.

Contoh 2

リナ: おもしろい映画だった。- Tadi filmnya menarik kan?
ジャヤ: え?全然おもしろくなかった。- Ha? Sama sekali tidak menarik.
Karena Rina berharap pengiyaan bahwa filmnya menarik, Jaya cukup kaget karena menurutnya filmnya sama sekali tidak menarik. (「え」 adalah suara terkejut atau bingung.)

Gobi 「よ」

Saat 「よ」 ditempelkan ke akhir kalimat, itu berarti bahwa pembicara sedang menginformasikan sesuatu yang baru. Di bahasa Indonesia, padanannya adalah ‘loh’ dalam ‘Dia besok nggak jadi pergi loh.’ atau ‘tahu nggak’ pada ‘Dia tadi sebetulnya marah, tahu nggak!’

Contoh 1

リナ: 時間がない。- Nggak ada waktu loh.
ジャヤ: 大丈夫だ。- Nggak apa-apa, tahu nggak.

Contoh 2

リナ: 今日はいい天気だね。- Hari ini cuacanya bagus ya?
ジャヤ: うん。でも、明日雨が降る。- Iya. Tapi besok bakal hujan loh.

Menggabungkan keduanya untuk mendapatkan 「よね」

Kamu juga bisa menggabungkan keduanya untuk mendapatkan 「よね」. Pada intinya, ini digunakan saat kamu ingin memberitahu pendengar akan suatu bahasan baru dan sekaligus meminta mendapat. Urutannya harus selalu 「よね」, tidak bisa sebaliknya.

Contoh

リナ: ジャヤは、魚が好きなんだよね。 – Tahu nggak, kamu suka ikan ya?
ジャヤ: そうだね。- Memang begitu, iya kan?

Tata bahasa yang harus kamu ketahui

Kita telah belajar fondasi dasar bahasa Jepang. Karena sekarang kita sudah punya gambaran umum bagaimana bahasa Jepang bekerja, kita bisa mengembangkannya dengan mempelajari tata bahasa tertentu untuk berbagai situasi. Bagian ini akan membahas tata bahasa yang dirasa penting bagi bahasa Jepang praktis dasar. Terjemahan literal akan semakin sedikit kita gunakan untuk memfokuskan diri pada tata bahasa yang baru karena kamu (seharusnya) sudah punya pemahaman baik tentang tata bahasa fundamentalnya. Sebagai contoh, pada kalimat yang tidak menuliskan subjeknya, saya mungkin menulis pada terjemahannya ‘dia’ walaupun tentu saja kamu tahu bahwa ‘kami’ atau ‘mereka’ juga merupakan terjemahan yang mungkin.

Bagian ini dimulai dengan mengubah apa yang telah kita pelajari menjadi bentuk yang sopan. Di bahasa manapun, pasti ada cara untuk membentuk kalimat sedemikian rupa sehingga terdengar sopan. Sebagai contoh, di bahasa Indonesia kita bisa menemui “Oi, gue ciao dulu.” vs. “Pak, saya permisi dulu.” Kamu bisa menggunakan satu gaya bahasa untuk bicara dengan dosenmu dan gaya bahasa lain untuk teman dekatmu. Nah, di bahasa Jepang tidak hanya kata-katanya yang berubah, tapi aturan tata bahasa untuk setiap kalimat juga berubah. Ada garis yang pasti dan jelas yang membedakan gaya bicara sopan dengan santai. Di lain pihak, aturan-aturannya akan memandu kamu dengan jelas bagaimana memoles kalimatmu untuk konteks sosial yang berbeda. Di bagian ini kita akan belajar cara menkonjugasikan kalimat ke tingkat kesopanan yang sesuai, diperlukan untuk berbicara kepada orang dengan kedudukan sosial yang lebih tinggi atau dengan orang yang belum terlalu akrab.

Selanjutnya bagian ini akan membahas jenis-jenis tata bahasa utama yang sangat berguna di bahasa Jepang. Dengan alasan ini, kita akan belajar konjugasi yang sangat umum yaitu bentuk-te, potensial, pengandaian, dan volisional. Materi akhir-akhir bagian ini tidak disusun berdasarkan urutan tertentu dan memang tidak perlu. Tata bahasa yang ada di sini pasti diperlukan, yang artinya adalah kamu memang harus mempelajari semuanya dan mempelajarinya dengan baik.

Isi bagian ini
  • Bentuk sopan – Membahas perbedaan dasar gaya bicara santai dengan sopan. Juga membicarakan aturan konjugasi bentuk sopan.
  • Menyebut orang – Membahas bagaimana cara memanggil orang yang benar bedasarkan jabatan atau kedudukan sosialnya. Juga membahas berbagai pronomina (kata ganti) dan penggunaan tepatnya.
  • Partikel tanya – Membahas cara membuat pertanyaan di bentuk sopan. Juga membahas penggunaan partikel tanya di konteks lain.
  • Kalimat gabungan – Membahas cara merantai beberapa kalimat menjadi satu. Memperkenalkan bentuk-te yang ampuh.
  • Keadaan berlanjut – Membahas cara menyatakan aksi atau keadaan yang berlanjut dengan bentuk-te.
  • Bentuk potensial – Membahas cara menyatakan kemampuan melakukan sesuatu.
  • Menggunakan する dan なる dengan partikel に – Membahas ekspresi-ekspresi berguna dengan 「する」 dan 「なる」.
  • Pengandaian – Membahas cara menyatakan hal-hal dan kejadian yang terjadi jika kondisi tertentu dipenuhi. Anak jurusan komputer, kamu pasti mau membaca bab ini!
  • Menyatakan keharusan – Bagaimana mengatakan bahwa kamu harus atau tidak boleh melakukan sesuatu. Juga membahas cara menyatakan bahwa kamu tidak harus melakukan sesuatu.
  • Keinginan dan saran – Membahas cara menyatakan keinginan dan saran. Bab yang wajib untuk mendapatkan pacar di Jepang!
  • Menggunakan klausa subordinat terkutip dan menyatakan dengarkabar – Belajar bagaimana cara menyatakan apa yang ada di pikiranmu dan cara mengutip orang lain dengan klausa subordinat.
  • Definisi dan deskripsi – Belajar menggunakan 「という」 untuk mendefinisikan, mendeskripsikan, atau berbicara tentang sesuatu secara umum.
  • Mencoba atau mengusahakan sesuatu – Cobalah hal-hal baru dengan tata bahasa ini.
  • Memberi dan menerima – Belajar bagaimana cara memberi dan menerima menggunakan 「あげる」、「やる」、「くれる」、dan 「もらう」.
  • Membuat permintaan – Belajar bagaimana membuat permintaan dengan 「~ください」、「~なさい」、「~ちょうだい」、dan bentuk perintah (imperatif).
  • Angka dan berhitung – Menjelaskan bilangan dan berbagai macam satuan untuk menghitung.
  • Bab-bab di bawah masih dalam tahap penerjemahan.

  • Mengakhiri bagian 4 dan gobi tambahan – Mengakhiri apa yang telah dibahas di bagian ini dan membahas gobi baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: